Padukuhan Dawukan adalah salah satu padukuhan yang terletak di Desa Sendangtirto, Berbah Sleman. Sebuah padukuhan yang terkenal subur, dengan air yang terus mengalir bahkan di musim panas sekalipun merupakan sebuah padukuhan yang memiliki kisah yang unik berkaitan dengan sejarah penamaannya.

Padukuhan Dawukan sendiri memiliki beberapa tempat ikonik yang sejak masa berdirinya dulu masih bisa dilihat hingga saat ini. Seperti pasar desa yang ramai dan terletak di pinggir Jalan Wonosari, suatu tempat yang menjadi penghubung wilayah antar kabupaten. Pasar ini bernama Pasar Pahing dimana keramaian perdagangannya masih dapat dilihat hingga saat ini. Pada masanya pasar ini juga sangat ramai pada hari pasarannya, yaitu Pahing, dimana banyak pedagang dan pembeli bertemu untuk bertransaksi. Namun di luar hari pasarannya, pasar ini juga sering dijadikan sebagai tempat mangkalnya para pengemudi andong yang siap mengantar warga dari luar padukuhanan untuk bertandang ke Dawukan yang dikenal cukup luas karena hasil pertaniannya, maupun mengantarkan warga padukuhannya sendiri untuk bepergian ke luar mencari kebutuhan yang tidak tersedia di padukuhannya.

Selain pasar ada juga bendungan tua yang kalau menilik model bangunannya adalah peninggalan Belanda, meskipun tidak ada sumber pasti yang dapat memberikan keterangan berkaitan dengan angka tahun pembuatannya maupun peresmiannya. Bendungan ini hanya menjadi bukti bahwa di masa lalu Padukuhan Dawukan ini memang memiliki sumber daya pertanian yang baik sehingga pemerintah saat itu merasa perlu memfasilitasi warga agar pengairan ke ladang-ladang di padukuhan tersebut lancar dan baik. Banyak sekali cerita mistis yang beredar di seputar bendungan ini namun tidak secara langsung berhubungan dengan Padukuhan Dawukan sendiri, namun lebih pada keberadaan bangunan- bangunan kuno yang masih tersisa di adukuhan ini. Lalu seperti apakah Padukuhan Dawukan memperoleh namanya?

Menurut beberapa sumber yang ditemui, Padukuhan Dawukan ini terdiri dari beberapa wilayah yang kemudian menyatu ke dalam satu padukuhan yang luas. Pada masa Mataram, padukuhan ini terbagi ke dalam wilayah-wilayah tersendiri seperti Tegalsari, Dhadapan, Tegaldempyong, Trukan, Cepor, dan Demangan. Namun wilayah- wilayah ini bergabung menjadi satu padukuhan bernama Dawukan pada tahun 1946 dan menjadi bagian dari Desa Sendangtirto pada tahun 1948 menurut keterangan Kepala Dukuh Agung Prihattanto.

Cerita Asal-Usul Nama Padukuhan Dawukan

Dari wilayah-wilayah yang ada di Padukuhan Dawukan tadi ternyata memiliki kisah tersendiri yang menjadi cikal bakal lahirnya nama Padukuhan Dawukan ini. Ada beberapa versi yang didapat dari berbagai sumber, namun berkait dengan wilayah-wilayah yang ada maka kisah Demang sakti dan kuda Dawuk kesayangannya inilah yang dianggap sebagai ikon penamaan Padukuhan Dawukan.

Menurut Dwi Sulistyo, Kamituwa Desa Sendangtirto, pada masa Mataram Kuno, ada seorang Demang yang sakti mandraguna. Beliau selalu ikut berperang melawan musuh-musuh Mataram dan dapat meraih banyak kemenangan. Karena jasanya yang besar itulah maka Demang ini diberi penghargaan berupa wilayah di dekat aliran sungai Kuning yang luas dan subur. Wilayah dimana Demang ini tinggal kemudian disebut wilayah Demangan.

Keberhasilan Demang ini tidak lepas dari jasa seekor kuda berwarna Dawuk (abu-abu) yang menjadi kesayangannya. Kuda ini sangat gesit dan mampu berlari sangat kencang. Tenaganya pun besar serta tidak gampang lelah. Itulah sebabnya mengapa sang Demang sangat menyayanginya, bahkan konon kuda-kuda para prajurit musuh Mataram akan merasa takut ketika mendengar ringkikannya. Derap kakinya juga mampu membuat nyali para berandal pengacau desa tunggang langgang. Maka banyak orang kemudian pindah dari ibukota Mataram ke wilayah ini untuk mencari penghidupan baru. Apalagi sejak Demang memperbolehkan beberapa pemilik kuda untuk bisa mendapatkan keturunan dari kuda Dawuknya, maka penduduk kemudian banyak yang mulai memelihara dan beternak kuda dengan kualitas yang baik saat itu. Kuda-kuda ini sering dibawa atau digembalakan di wilayah yang bernama Tegalsari. Kuda-kuda ini seringkali disewakan jika keluarga istana pergi berburu di daerah ini atau untuk menarik andong. Hal ini membuat banyak penduduk di wilayah Demangan dan Tegalsari hidup berkecukupan.

Wilayah yang makmur ini rupanya menarik hati seorang janda muda, mantan istri seorang Demang yang gugur di medan perang. Janda ini memiliki paras yang sangat cantik serta pandai menari, nembang dan membuat rokok yang dilinting dari tembakau dan kulit jagung yang disebut klobot. Kecantikannya inilah yang membuat banyak pria hidung belang yang menggodanya. Sehubungan hal ini maka janda yang masih sangat mencintai almarhum suaminya ini memilih mengungsi ke desa untuk menghindari godaan dari pria-pria genit tersebut. Dia memilih untuk tinggal di Desa Dhadapan dan dikenal sebagai Mbok Randha Dhadapan.

Mbok Randha Dhadapan yang cantik ini hidup dari menjual rokok klobotnya. Serta mengajari para perempuan menari dan nembang sehingga kelak bisa menjadi ledhek atau penari tayub. Meskipun dia tinggal tersembunyi di Desa Dhadapan, namun kecantikan dan keahliannya membuat rokok ini akhirnya terdengar kemana-mana termasuk ke telinga Demang Dawukan. Namun sang Demang sangat menghargai Mbok Randha Dhadapan ini karena beliau mengetahui bahwa mbok Randha sangat mencintai dan setia kepada almarhum suaminya yang juga rekan seperjuangan sang Demang. Oleh karena itu keberadaan Mbok Randha.

Dhadapan ini justru menjadi kewajiban baginya untuk melindungi dan memastikan keselamatannya sebagai bentuk rasa hormat pada almarhum suaminya.

Pernah suatu kali sang Demang harus kembali turun laga untuk menolong Mbok Randha Dhadapan yang dihadang para berandal dari desa sebelah. Seperti biasanya, sang Demang menggunakan kuda Dawuknya untuk memerangi para berandal tersebut. Saat para berandal memaksa Mbok Randha untuk mau dijadikan istri simpanan kepala berandal, maka sang Demang dengan gagah berani membelanya. Berandal-berandal itu dihajar hingga babak-belur dan lari tunggang- langgang tanpa berani kembali lagi. Mbok Randha pun sangat berterima kasih pada sang Demang dan kuda Dawuknya itu, sehingga ia pun mau menerima tawaran sang Demang agar mengajari menari seorang calon istri tumenggung yang kebetulan dititipkan pada istri sang Demang.

Mbok   Randha   diminta   untuk   mengajari  wanita   calon   istri tumenggung ini tentang adat istiadat sebagai putri Mataram. Mbok Randha tidak mengalami kesulitan karena ia tidak asing lagi dengan adat-istiadat wanita istana. Adapun calon istri tumenggung ini bernama Rara Mendhut yang kelak akan memiliki kisahnya sendiri di padukuhan yang berbeda, tidak jauh dari Dawukan.

Mbok Randha sangat senang dan merasa terhormat dapat mengajari putri pesisir ini tentang semua hal yang pernah dipelajari dan diketahuinya. Bahkan ilmu melinting rokoknya ini pun diwariskan pada putri pesisir tersebut. Mbok Randha juga mengajarinya cara merawat diri sehingga kulit Rara Mendhut yang tadinya agak gelap karena terpapar Matahari Pesisir menjadi bersih bercahaya. Ada mitos yang hidup di kalangan masyarakat Dawukan, bersih dan bercahayanya kulit Rara Mendhut karena dimandikan mbok Randha di sungai Kuning, tapi ada juga yang berujar bahwa Rara Mendhut dimandikan di sungai kecil tidak jauh dari rumah Mbok Randha Dhadapan. Kisah ini terus berkembang dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi dan sampai akhir tahun 90-an, makam Mbok Randha Dhadapan ini masih diziarahi para penari dan ledhek yang ingin terkenal. Setelah itu mereka akan mengadakan ritual mandi di sungai Kuning agar kecantikannya terjaga hingga tua seperti Mbok Randha Dhadapan.

Sayangnya sejak era modern saat ini, makam Mbok Randha Dhadapan sudah tidak terpelihara lagi. Cungkupnya hilang dan bahkan seperti makam tidak bertanda. Hanya ditandai dua kayu berjajar tanpa nama. Apakah hal ini disebabkan karena semakin modernnya masyarakat saat ini sehingga mitos dan ritual mulai ditinggalkan?; Apakah juga karena letak makam ada di lahan pribadi bukan milik padukuhan atau desa sehingga makam jadi kurang terpelihara?

Sementara itu kuda-kuda Dawuk hasil keturunan dari kuda Demang Dawukan juga berguna menjadi tonggak kemajuan transportasi saat itu. Sementara pasar Pahingan yang terdapat di Padukuhan Dawukan juga menjadi tempat perhentian para kusir andong, sehingga pasar ini menjadi sangat ramai dengan beraneka barang yang bisa diperjualbelikan hingga saat ini. Perkembangan Dawukan juga didukung oleh beberapa pengusaha transportasi pada jaman Belanda yang mengungsi ke wilayah ini karena tingginya pajak kepemilikan kuda dan kereta. Maka pada masa penjajahan banyak pemilik-pemilik andong yang akhirnya pindah ke padukuhan ini dan mengembangkan usaha transportasi andong sewaan semacam rental mobil saat ini.

Didukung dengan adanya peternakan kuda terbaik berwarna khas abu- abu atau dawuk yang terkenal kuat, gesit, dan cepat, maka usaha persewaan andong di wilayah ini cukup maju saat itu. Seperti telah disampaikan sebelumnya, pasar Pahingan menjadi sentra keramaian persewaan andong. Hal ini meluas hingga wilayah Potorono.

Hanya saja zaman terus berganti dan transportasi menggunakan hewan mulai berubah menjadi mesin sehingga peternakan kuda menjadi kurang popular begitu pun dengan andong. Jika kita mengunjungi Padukuhan Dawukan tidak banyak lagi yang dapat dilihat dari kesuksesannya dulu dalam hal pengelolaan andong sebagai alat transportasi. Malahan di wilayah Potorono masih ditemukan beberapa orang yang memiliki andong dan kuda sendiri.

Padukuhan Dawukan yang namanya berasal dari jenis warna kuda kesayangan sang Demang kini telah bertransformasi menjadi padukuhan yang modern. Meskipun tidak lagi sebagai sentra transportasi dan penyedia kuda-kuda terbaik namun padukuhan ini tidak meninggalkan tradisi lama sebagai pengusaha sukses. Air yang berlimpah menjadikan padukuhan ini tempat sentra Koi di Sleman Timur. Selain itu bakat menembangkan lagu-lagu Jawa, menari, dan bermain kethoprak masih mendarah daging di padukuhan ini sehingga jejak kepandaian Mbok Randha Dhadapan juga tidak menghilang begitu saja.

Para pemuda aktif menggelar latihan seni pertunjukan tradisional bahkan juga pendidikan untuk menjadi pranata adicara yang sekaligus melestarikan budaya dan bahasa Jawa. Sama seperti Demang Dawukan yang selalu menjaga warganya dengan baik beserta warisan dan nilai luhur yang ditinggalkan oleh para pengampu keraton Mataram. Maka nama Dawukan tidak akan pernah lekang dimakan jaman meskipun tidak ada lagi jejak sejarah yang tersisa. Namun filosofi, semangat, dan pengaruh kebaikan dari tokoh-tokoh yang menjadi pilar berdirinya padukuhan ini akan selalu mengalir di setiap nafas dan denyut nadi generasi selanjutnya.

 

Penulis  : Alexandra Indriyanti Dewi